<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9167249412637198908</id><updated>2012-02-15T23:37:19.755-08:00</updated><category term='puisi'/><category term='cerpen'/><title type='text'>RANAH SASTRA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>RANAH SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07281657085770389578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9167249412637198908.post-3100765486373982918</id><published>2010-03-06T19:17:00.000-08:00</published><updated>2011-05-09T07:01:14.786-07:00</updated><title type='text'>Malam Panjang Di Kota Cambridge Tua</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/S5Mc-VsIL6I/AAAAAAAAAO4/WpXBB5BF9NM/s1600-h/Luxembourg_city_by_night.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 162px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/S5Mc-VsIL6I/AAAAAAAAAO4/WpXBB5BF9NM/s320/Luxembourg_city_by_night.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5445728231720759202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;picture source  : http://wvs.topleftpixel.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MALAM PANJANG&lt;br /&gt;DI KOTA CAMBRIDGE TUA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Beta Chandra Wisdata&lt;br /&gt;Cerpen ini dimuat di halaman seni dan Budaya, Radar Jember pada tanggal 07 Maret 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&amp;gt;Anggur-anggur murahan tertumpah ruah di jalanan. Angin berhembus lirih sekejap, seperti sejam perjalanan ranting kering tertahan aliran peranakan muara sungai Cam. Datang, hilang kemudian mulai lagi.  “ Betapa  murkanya hari ini!   (diam . Memandang pada patung perunggu yang tertutup bayang hitam matahari) “ ucap Garcia seorang loyalis romantik dan pernah dibesarkan dalam keluarga kebangsawanan-kerajaan Saint  Bene’t  ala tahun 1446. Ia berbalik, berjanji membuka tabir semua itu.&lt;br /&gt;--------&amp;gt;“ melayang, melayang. kristal-kristal terpecah pada hantu malam. Aku akan punya mata. Menyerta hitam, membalik putih. Dan, siapa gerangan? Dan, siapa gerangan? Akan kurobek-robek dia “ (diikuti gerak tubuh).  Garcia meneruskan, “apa yang kalian lihat?!”.&lt;br /&gt;--------&amp;gt;Semua pun dalam keadaan tanpa daya. Rupa-rupanya, perhatian orang-orang masih tertuju pada sehelai rambut wanita di altar pemujaan. Seperti ada perselingkuhan!  Ada kemaksiatan! Ada  kepiluan! Salah seorang diantara mereka memindahkan percakapan Garcia, perlahan-lahan tanpa terbebani. Mereka memberitakan pertimbangan langkah pengambilan kebijaksanaan segera, karena ternyata dibawah sehelai rambut wanita itu ada 1 naskah perjanjian yang hilang setelah sorak kemenangan perang semalam dan kedatangan pengunjung ramai datang dari segala penjuru negeri untuk memberi ucapan selamat. Di usia 35 tahun, belum pernah mereka merasakan hal demikian.&lt;br /&gt;Garcia yang bebal itu berhenti dalam jarak sedepa sambil melihat. Ia terpana! Lalu memandang Louise. Louise memandang lukisan Temppietto sejenis kubah roman arsitek Florentine yang saat bersamaan mulai didirikan di Montorio-Roma, kemudian memandang langit. Louise sempat khawatir.&lt;br /&gt;“ sudah kuduga (menunjuk pada Garcia) ... Kita harus mengangkat seorang raja.”  Louise berlari kearah Garcia. Membisik-bisikkan ke telinganya. Bulan pun turun.  Lukisan jatuh, retak di salah satu sudutnya.&lt;br /&gt;--------&amp;gt;“ suara kalian suara tuhan. Atas nama keremangan bulan diatas kalian malam ini, kalian meminangku sebagai raja. Garcia raja. Demi malam, kalian ikuti sabdaku“ (merendahkan suaranya).&lt;br /&gt;“ bodoh. Ini bukan Indonesia, negeri murahan penuh dengan jejalan kebusukan. Tak ada keadilan! Karena yang diakui hanya tirani kepalsuan! Aku tak mau menganggapmu sebagai raja.”&lt;br /&gt;Louise berupaya menenangkan. Beruntungnya, keributan itu tidak menimbulkan dampak lebih jauh.&lt;br /&gt;“ Sekarang, tidak cukup kuat menyandarkan kepercayaan. Aku tidak membutuhkan ketakutan dan kemarahan kalian.” (membuka tangan dan berusaha meyakinkan).&lt;br /&gt;“ kami memanggilmu elizabeth. Louise sang elizabeth.  Bukan Garcia. Jika petani selalu menghamba raja, ia hanya akan bisa memperbudak. Ini kemauan kami”. Semua mengangguk. Keterdesakan waktu, menyebabkan kebulatan suara diambil.&lt;br /&gt;“ Ya... Aku hanyalah keremangan bulan yang tenggelam” (menghela napas panjang).&lt;br /&gt;--------&amp;gt;Namun, ketenangan Garcia tak berlangsung lama. Kesalahpahaman terkadang menguntungkan semua pihak sehingga tidak tahan dengan caci maki berbuntut prahara kemanusiaan. Suatu kali Garcia pernah menyarankan beberapa kawan di belanda agar bertolak ke Indonesia, menguasai emas hitam dan menjunjung perdamaian. Sayang, yang nampak dari keberhasilan  adalah kotoran penguasaan dan penindasan sehingga dia tetap menjalani diri pada kutukan-kutukan romantiknya di Cambridge. Kini hanya karisma murahan yang didapati olehnya. Selama 2 jam penuh ia meyakinkan diri agar tidak terjadi apa-apa. Ia merasa kosong. Tak bermakna !&lt;br /&gt;Garcia mengambil wadah tua dia menengguk air yang jatuh dari embun-embun dedaunan karena tanpa terasa dini hari mulai tiba. Tiba-tiba,  dari kejauhan terdengar tangisan. Padahal, sekeliling gelap gulita. Louise segera mencari tahu siapa gerangan itu? Yang terlihat kemudian, keluarlah seorang anak kecil dibalik semak-semak !&lt;br /&gt;--------&amp;gt;“ mengapa kau bersembunyi disana? Dan, kemana ibumu? Ini bukan tempat bermain. Kembali kerumahmu. Ini sudah malam.”&lt;br /&gt;Anak itu tetap menangis.&lt;br /&gt;“Oh dewi bumi, dia tidak menghentikan jeritan-jeritan kesucian. Malam terlalu ramai, rupanya. ” Ucap Garcia.&lt;br /&gt;Anak itu terdiam.&lt;br /&gt;“ kau anak bumi. Apa yang membuatmu tidak bisa menghentikan tangisanmu?” (memeluk anak itu).&lt;br /&gt;Anak mulai berbicara terbata-bata.&lt;br /&gt;“ aaa...aaa kuu.... aakuu.. mencuri...”&lt;br /&gt;Ia melarikan diri. Louise diam. Garcia pun terdiam. Namun, Louise memanggilnya.&lt;br /&gt;“kau mencuri apa? Ungkapan kejujuranmu kepada kami. Anggap aku ibumu.” Hanya kata ini yang bisa ia ucapkan&lt;br /&gt;“ aaakuu... aaa... kuuu yang mencuriii naskah.... “ Ia mengembalikan selembar naskah perdamaian.&lt;br /&gt;“ terkutuklah bumi... terkutuklah bumi... (garcia merebutnya)”&lt;br /&gt;--------&amp;gt;Tak lama kemudian barulah diketahui apabila anak yang bernama Joshepine mencuri karena terpaksa. Dia mengakui ! Selama dia dibimbing oleh jiwa-jiwa putih yang diberikan sebuah mimpi peramal, konon, dia akan mampu mengembalikan suasana seperti sediakala sehingga ia terpaksa mencuri diam-diam. Dia terjebak pada perangkap ilusi. Dia membutuhkan kumpulan tetes air mata dari penduduk Cambridge agar dijadikan mata air keteduhan di desanya yang saat ini mulai kering. Konon, mata air itu akan memancarkan tiga warna yaitu biru (harmonis), merah (kesedihan) dan kuning (keceriaan). Dia tidak memiliki waktu karena hanya diberikan waktu semalam.&lt;br /&gt;--------&amp;gt;Rencana berubah 180 derajat. Pengangkatan ratu dibatalkan, Louise menyetujuinya dan Garcia tersenyum kecut. Semua kembali seperti sedia kala. Tak diragukan lagi, semua mengikuti tuntutan suara hati yang terkadang tidak bisa dinalarkan seperti makna awam. Mereka bertemu kembali pada meja bundar. Suara-suara tersentak mengambil keputusan. Tidaklah mungkin tangisan memecah dalam beberapa jam yang akan berakhir.&lt;br /&gt;“ kita harus melakukan sesuatu. Karena, danau keteduhan itu adalah bagian hak waris Cambridge (mengangkat tangan)” ungkap Louise.&lt;br /&gt;“ Serang irish! Dengan begitu, akan banyak tangisan dimana-mana. Itu akan membantu dia mengembalikan danau keteduhan ”&lt;br /&gt;“ Bumi menangis. Semua terkapar. Danau keteduhan terselamatkan. Jika mereka semua seorang veteran, pujilah aku. sang kudus! ”  kata Garcia kepada anak kecil itu.&lt;br /&gt;--------&amp;gt;Bagaimanapun lagi-lagi harus mengingkari naskah perdamaian itu. Malam itu, mereka sontak menyerang Irlandia. Tangisan memecah dimana-mana. Air mata tertumpah. Anak kecil menangis. Langit berkabut dan akan gelap.&lt;br /&gt;Sementara itu, Garcia mulai melupakan ucapan-ucapan romantiknya. Dia kesetanan! “Bunuh mereka. Bunuh. Cepat, agar danau keteduhan mulai dapat diselamatkan.”&lt;br /&gt;Perlahan bangkai mayat berceceran. Anak kecil itu memunguti tetesan-tetesan air mata dibalik mayat-mayat, karena sinar kemerahan penanda pagi akan datang. Ia mengumpulkan melalui sebuah kantong iblis yang dimilikinya.&lt;br /&gt;--------&amp;gt;Dia kemudian tertawa terbahak-bahak. Louise tampaknya segera menyadari dan mengambil kantong airmata itu. Tetapi terlambat! Anak itu berubah menjadi iblis yang kemudian meminum air mata dari kantong sehingga hanya ada rintihan-rintihan alam. Alam mulai murka! Sejak itulah kota Cambridge tertutup salju abadi dan dibawah tekanan-tekanan tirani. Semalam nasib kota yang usang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Jurusan S2 Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM)&lt;br /&gt;Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://s208.photobucket.com/albums/bb222/sayapjibril/?action=view&amp;amp;current=poem-1.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://i208.photobucket.com/albums/bb222/sayapjibril/poem-1.jpg" alt="Photobucket" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;This write publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9167249412637198908-3100765486373982918?l=sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/3100765486373982918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/3100765486373982918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2010/03/malam-panjang-di-kota-cambridge-tua.html' title='Malam Panjang Di Kota Cambridge Tua'/><author><name>RANAH SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07281657085770389578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/S5Mc-VsIL6I/AAAAAAAAAO4/WpXBB5BF9NM/s72-c/Luxembourg_city_by_night.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9167249412637198908.post-1180873307929348247</id><published>2009-08-11T09:10:00.000-07:00</published><updated>2009-08-11T09:32:46.795-07:00</updated><title type='text'>DIPONEGORO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SoGZLxny3ZI/AAAAAAAAAOE/xG3mFsM-1e4/s1600-h/laskardiponegoro.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 154px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SoGZLxny3ZI/AAAAAAAAAOE/xG3mFsM-1e4/s320/laskardiponegoro.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368740658380201362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;picture source: http://www.photobucket.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DIPONEGORO&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melaju di atas kuda putih&lt;br /&gt;memacu semangat nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kobar !&lt;br /&gt;kobar !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diponegoro menyatukan bumi&lt;br /&gt;ditanah ibu pertiwi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dibuat oleh Beta Chandra Wisdata ketika masih duduk dibangku kelas dua SMP Negeri 4&lt;br /&gt;di tabloid FANTASY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;This poem publish for science purposes, had a copyright writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9167249412637198908-1180873307929348247?l=sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/1180873307929348247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/1180873307929348247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2009/08/diponegoro.html' title='DIPONEGORO'/><author><name>RANAH SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07281657085770389578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SoGZLxny3ZI/AAAAAAAAAOE/xG3mFsM-1e4/s72-c/laskardiponegoro.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9167249412637198908.post-7617377595060833945</id><published>2007-09-15T08:13:00.000-07:00</published><updated>2010-05-31T11:59:48.618-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Tahajoeddin Noer Maoet</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/TAQHEai1eWI/AAAAAAAAAPo/MGtN2DNIzbc/s1600/Compass.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 156px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/TAQHEai1eWI/AAAAAAAAAPo/MGtN2DNIzbc/s200/Compass.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477510819215669602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;picture source: http://www.photobucket.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TAHAJOEDDIN NOER MAOET&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Cerpen ini dimuat di Majalah Prima February 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Terlihat lelaki tua setengah bungkuk tergeletak resah di sudut tembok retak. Pakaiannya lusuh, penuh bau lumpur coklat kehitam-hitaman. Matanya menatap sayu, tertutup dekapan kedua belah tangannya yang selama berpuluh-puluh tahun ini menjadi penompang hidupnya sehari-hari. Kadang, ia menerawang jauh tatkala mobil keluaran terbaru berhamburan di hadapannya. Ia tak tahu takdir pedih apa yang menimpa pada dirinya. Apakah struktur tatanan pemerintahan yang mungkin perlu dirombak total? Ataukah, kesalahan lingkungan metropolitan lengkap dengan gegap gempita derap sepatu pembangunan yang terlalu kejam untuknya. Entahlah, ia juga tak tahu jelasnya. Basis intelektual yang dimilikinya memang tak tumbuh bersamaan dengan pertumbahan umurnya. Toh, tiba-tiba ia terlempar begitu saja di jalanan liar ibu kota.&lt;br /&gt;Tahajoeddin Noer Maoet demikian sapaan akrabnya. Nama ini terkesan aneh dan unik di telinga.   &lt;br /&gt;    --------&gt;Pasalnya, pemberian sebuah nama umumnya terjebak dalam keindahan fonologi, pengaturan tata bahasa serta lingkungan sosial dimana ia berasal. Tidak sedikit yang berdalih bahwa nama sesungguhnya terdiri dari "coretan tak beraturan" yang dipaksakan bentuk konsonannya agar seseorang dapat memahami esenssi filosofisnya dibalik itu. Akan tetapi, semua ini tidak akan berlaku bagi Tahajoeddin Noer Maoet. Nama tetaplah nama! Tidak perlu didramatisir, apalagi diagung-agungkan.&lt;br /&gt;Siang hari yang menyengat, Tahajoeddin Noer Maoet terbangun dari mimpi buruk. Mimpi menjadi jutawan! Ia mengusap-usap kedua matanya seraya melirik sebongkah kaleng bekas di sebelahnya.&lt;br /&gt;  "Ah, masih utuh ternyata. Masih dapat dua ribu lima ratus rupiah". Gumamnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Lalu ia mengambil kaleng itu. Dikeluarkan satu persatu tumpukan uang receh dan dicengkramnya kuat-kuat. Lantas, ia tertawa terbahak-bahak laksana gemuruh ombak sambil sesekali memicingkan kedua belah matanya. Sial, pejalan kaki yang kebetulan lewat didepannya mendadak mengubah haluan. Pipi Tahajoeddin Noer Maoet memerah. Seribu pertanyaan muncul, apakah ada yang salah dengan ekspresi psikologisnya? Sejurus kemudian ia kembali memperbaiki roman mukanya.&lt;br /&gt;--------&gt;Suara sirine meraung-raung memecahkan konsentrasinya. Dari ujung jalan truk berwarna hitam itu berbelok ke arah kiri yang akhirnya berhenti tepat didepan Tahajjoedddin Noer Maoet. Mungkin ia tidak menyadari bahwa truk tersebut dari dinas sosial. Sepuluh orang berbadan kekar -berseragam lengkap dengan segenggam kayu diayun-ayukan- turun dari truk pengangkut. Seperti biasa mereka bersikap ramah dengan kata-kata menyumpah pedas bernada tinggi.&lt;br /&gt;    --------&gt;Minggir sampah! Kamu ini merepotkan kami saja". Teriak salah satu diantara mereka yang didadanya terpampang huruf kapital ASMARADJA. Jam merek Rolex membalut pergelangan tangan kirinya.&lt;br /&gt;    "Ampun, Pak. Saya hanya mau cari makan. Saya bukan maling".&lt;br /&gt;"Dasar Sundal. Ikut ke kantor. Biar mampus sekalian. Saya ini menjalankan tugas".&lt;br /&gt;--------&gt;Tahajjoeddin Noer Maoet diseret menuju truk pengangkut sampai-sampai baju satu-satu benda berharga miliknya robek berkeping-keping. Kaleng bekas berisi uang receh jatuh berserakan. Sebenarnya, dia sempat memungutnya satu persatu. sayang tangan kiri tergencet lars sepatu hitam pekat salah satu petugas. Bibir Tahajoedddin Noer Maoet merintih kesakitan. Petugas yang lain malah diam bahkan senyum tipis terlihat diantara mereka.&lt;br /&gt;--------&gt;Didalam truk, Tahjjoddien Noer Maoet memandang penuh iba. Ia tidak sendirian! Anak kecil berselimutkan kardus menangis dipelukan ibunya. Sementara keadaan yang lainnya terlihat cukup shock yang tampak di tatapan kosong mereka. Mereka memiliki persamaan dengan pergulatan hidup sehari-hari Tahajoeddin Noer Maoet.&lt;br /&gt;       --------&gt;Tahajoeddin Noer Maoet berjalan terhuyung-huyung kearah mereka. Dan, ikut merasakan beban berat yang menggeliat di benak mereka. Secara spontan, rasa kesetiakawanan menuntunnya untuk menenangkan hati anak kecil itu. Dibelai halus rambut kumal anak yang berumur 5 tahun. Sesekakali menepuk-nepuk punggungya. Keringat deras yang bercucuran di kening anak itu dibasuh dengan menggunakan sobekan bajunya. Betapa keadaan yang kotras dengan sikap "ramah" yang baru ditunjukkan oleh petugas dinas sosial.&lt;br /&gt;         "Lepaskan tanganmu dari anak itu. Kamu ini jangan sok. Biar tau rasa anak cengeng itu hidup berkeliaran di jalanan. Mau jadi apa kalau sudah besar".&lt;br /&gt;"Tapi, dia kan masih anak-anak Pak…."&lt;br /&gt;"Tidak ada tapi-tapian. Kalo sampah ya sampah. Kalian semua ini buang-buang waktu berharga kami saja."&lt;br /&gt;"Ijinkan kami pulang Pak."&lt;br /&gt;"Pulang? Mau pulang kemana. Diam kamu. Nggak usah banyak ngomong. Kita akan berangkat. SURADIE ayo berangkat, cepat".&lt;br /&gt;--------&gt;Mesin truk menderit, kemudian melaju dengan kencang yang tidak tahu kemana tujuannya. Ditengah perjalanan, Tahajoedddin Noer Maoet diam seribu bahasa. Tapi, api berkobar didalam hatinya. Jantungnya berdegup keras, ia sadar telah ditindas oleh mereka. Dalam titik ini, ia mulai menelaah kemungkinan apa saja yang akan terjadi nanti. Tanpa sadar, Tahajoeddin Noer Maoet mengasah otaknya. Ia amati satu persatu tingkah laku para petugas dinas sosial tersebut. Matanya bak elang yang sedang mencari mangsa! Namun, beberapa diantara para petugas dinas sosial itu memperhatikan "keanehan" Tahajoeddin Noer Maoet.&lt;br /&gt;    "Hei… Pak Tua! Apa yang sedang kamu lihat?".&lt;br /&gt;"Tidak ada Pak. Hanya saja wajah Bapak mengingatkan saya pada seseorang."&lt;br /&gt;"Apa maksud kamu. Sudah, diam saja jangan berbuat yang bukan-bukan."&lt;br /&gt;"Baik. Maaf Pak."&lt;br /&gt;           --------&gt;Kalau para dinas sosial itu mengetahui apa yang dipikirkan Tahajoeddin Noer Maoet tentu ia bisa dilempar saja dari truk yang melaju kencang ini. Inilah perbedaan mendasar manusia dengan Tuhan. Seakan-akan segala sesuatu bisa ditebak dengan mengandalkan analisis otak selayak mengatikfkan seperangkat hardware komputer! Padahal bila kita mau jujur, seringkali terdapat kesalahan dalam menyimpulkan segala sesuatu sebelum mengujinya dengan fakta yang akurat. Apalagi mengkaitkan antara satu dengan yang lain tidaklah mudah, butuh perenungan kontemplatif yang sangat mendalam. Kesalahan fatal ini yang dapat melukiskan kecerobohan Tahajoeddin Noer Maoet nanti.&lt;br /&gt;         --------&gt;Kira-kira dua puluh menit kemudian, truk itu berhenti di suatu tempat. Kumpulan gelandangan itu dipaksa turun satu persatu. Tahajoedin Noer Maoet mengamati lebih rinci daerah yang baru dikenalnya. Di depan, terlihat pos penjaga yang ditinggalkan sebab beberapa topi diletakkan berjejer begitu saja. Sejauh mata memandang, orang bertubuh kekar dengan pakaian dinas datang silih berganti. Tahajjoeddien Noer Maoet mulai menyadari beberapa hal fenomena keanehan mengenai keberadaannya disitu. Ia mencoba memberanikan diri menanyakan pertanyaan kritis.&lt;br /&gt;            "Pak, kami kok dibawa kesini. Apa salah kami? Kami bukan pencopet Pak."&lt;br /&gt;--------&gt;Petugas dinas sosial tak mau menjawabnya. Lantas, semua disuruh berjongkok. Seperti menghalau ternak, kelima belas gelandangan kelelahan itu dikemudikan masuk kedalam. Kecuali seorang perempuan dan anak kecil. Mereka semua masuk kedalam setelah melewati ruang interogasi. Langkah tertatih-taih akibat telapak kaki luka kepanasan berhenti disuatu ruangan pengap berukuran lima kali tiga empat meter. Para gelandangan itu saling berpandangan keheranan.&lt;br /&gt;          "Stop, kalian semua masuk kesana. Ini hukuman buat kalian yang telah merusak keindahan tata kota. Kota terlihat kumuh gara-gara kalian. Besok sore baru kalian boleh pulang. Itupun kalau ada ijin dari pusat. Untung saja, saya masih berbaik hati. Kalau tidak, kalian ini akan saya pulangkan kedaerah masing-masing. Terali besi saya kunci rapat-rapat. Ini nasi lima bungkus untuk makan. Habiskan sepuas-puasnya. Dana habis gara-gara mengurusi kalian".&lt;br /&gt;         "Saya tidak mau makan Pak. Saya tidak lapar. Saya pingin pulang" Pinta Tahojuddien Noer Maoet.&lt;br /&gt;"Mau pulang kemana, kejalanan. Kalau tidak mau ya sudah. Saya akan kembali, tapi awas kalau kamu makan lihat sendiri akibatnya".&lt;br /&gt;--------&gt;Dengan membabi buta, gelandangan itu merebut nasi bungkus. Seakan-akan khawatir kalau sekarang adalah hari terakhir untuk mengecap nikmatnya makan nasi dengan lauk pauk kerupuk. Dari cerita-cerita para gelandangan, beredar santer irama kehidupan mereka seringkali berakhir karena menderita kelaparan. Lembaga Swadaya Masyarakat non profit yang memperjuangkan mereka kurang dapat diharapkan. Barangkali, realitas inilah yang dilupakan oleh Tahajoeddin Noer Maoet. Sementara itu, usut punya usut, Asmaradja adalah penanggung jawab dibalik penangkapan gelandangan tersebut yang dalam istilah pemerintahan sering dikiaskan dengan bahasa "pemeliharaan kaum miskin kota"! Segala aktivitas termasuk pendanaan telah difasilitasi oleh pemerintah setempat.&lt;br /&gt;            Menginjak malam harinya, dingin merasuk tulang. Jangan harap petugas kemanan mau memberikan selimut hangat untuk menutupi kegigilan mereka. Tahajoeddin Noer Maoet, mencoba memecah persoalan dilematis ini. Ia lalu menawarkan gagasan-gagasan liar untuk mencoba kabur dari situ. Satu sepakat yang lain terperanjat. Mereka pikir itu merupakan tindakan bunuh diri. Tapi, Tahajoeddin Noer Maoet berusaha meyakinkan dengan gaya yang khas mirip para politisi!&lt;br /&gt;         "Kau sudah gila. Mau melarikan diri se7gala. Buat apa, khan kita pasti dibebaskan besok." Tanya salah satu diantara mereka.&lt;br /&gt;"Kamu seharusnya yang sadar. Kita terpedaya, khan kita tidak salah apa-apa. Aku tidak mau berlama-lama dalam ketidakpastian ini. Kita belum tentu dapat bebas besok. Ingat kasus Rodjiono yang tidak diketahui rimbanya hingga kini."&lt;br /&gt;"Lantas, apa yang akan kau lakukan?'&lt;br /&gt;"Begini, salah seorang dari kita berpura-pura sekarat. Terus… aku akan mencekik leher petugas itu. Kita bisa pulang dengan selamat Bagaimana?'&lt;br /&gt;"Usul yang bagus. Baiklah saya yang pura-pura sekarat. Kalian siapa saja yang mau ikut?'&lt;br /&gt;"Kami bertiga ikut. Aku, Rowo dan Dullah. Tapi apa tindakan ini tidak terlalu beresiko. Aku khawatir rencana ini gagal."&lt;br /&gt;"Aku jamin tidak. Sebab aku telah mengangan-angankan lebih jauh. Beres, tenang saja. Baiklah, kita mulai semua bersiap-siap. Yang lain harus menjerit meminta tolong."&lt;br /&gt;        --------&gt;Serentak keheningan malam kala itu memecah. Suara teriak tolong menggema di sudut-sudut ruangan. Para penjaga keamanan terjaga dari tidur lelapnya. Mereka panik, suara itu dianggap teriakan kebakaran. Tahajoeddin Noer Maoet berdiri disamping pintu penghubung kebebasan dengan dunia luar. Si Somat melancarkan melodrama seseorang yang tengah menghadapi sakratul maut. Derap sepatu semakin mendekat. Penjaga-penjaga itu datang! Pintu mulai dibuka, secepat kilat Tahajoeddin Noer Maoet mengambil perannya sebagai "eksekutor "penjaga itu.&lt;br /&gt;            --------&gt;Penjaga berontak lantas tubuh renta Tahajoeddin Noer Maoet didorong dengan keras sampai membentur dinding. Tahajoeddin Noer Maoet jatuh ke lantai. Kawan-kawan yang lain melindungi tubuh Tahajoeddin Noer Maoet. Ia tanpa ragu segera mengambil kesempatan emas ini, Tahajoeddin Noer Maoet lantas bergegas ambil langkah seribu meski dengan kondisis tubuh penuh luka dan lunglai., ia terus berlari sampai melewati ruang interogasi tanpa menoleh belakang padahal di belakang konflik belum berakhir. Hanya ada satu dibayangannya, kembali melakukan aktivitasnya di jalanan.&lt;br /&gt;         --------&gt;Celaka, pintu tertutup besi. Padahal inilah satu-satunya jalan. Ia bingung, menoleh kekanan kiri mencari celah kebebasan. Dibelakang serombongan petugas datang. Kali ini, ia tersudut. Tahajoeddin Noer Maoet, bersujud melindungi amukan tubuh dari pukulan kayau bertubi-tubi. Ia tersungkur. Darah segar mengalir di kepala. Akhirnya ia mati! Tubuh Tajaoeddin Noer Maoet segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dan, menurut hasil otopsi "dokter pesanan" yang menanganinya, Tahajoeddin Noer maoet meninggal akibat "kecelakaan".&lt;br /&gt;--------&gt;Pagi harinya, insan pers datang menanyakan peristiwa kejadian "pemberontakan kecil" di Lembaga Permasyarakatan. Entah tahu darimana peristiwa itu, tahu-tahu pers datang dari pelabagai penjuru. Itulah pers muncul dan menghilang bagai sekalebat bayangan hitam. Pengaburan kebenaran mulai digencarkan bahwa Tahajoeddin Noer Maoet adalah orang gila yang terpaksa ditembak petugas dengan alasan subyektif hukum. Sampai saat ini, kematian Tahajoeddin Noer Maoet tetap meninggalkan sebuah teka-teki besar. Tidak ada yang mampu menguak realitas kebenaran apalagi kemerdekaan pers dibekap oleh tangan-tangan dingin penguasa. Bahkan, nasib kawan-kawan Tahajoeddin Noer Maoet kini menguap tanpa jejak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*Mahasiswa FISIP Jurusan Sosiologi Unej&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Direct Version :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SZsFRVnIsDI/AAAAAAAAAG0/ii4RGP8cSak/s1600-h/Untitled+27.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 257px; height: 233px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SZsFRVnIsDI/AAAAAAAAAG0/ii4RGP8cSak/s320/Untitled+27.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303838781576097842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;This write publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9167249412637198908-7617377595060833945?l=sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/7617377595060833945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/7617377595060833945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2007/09/tahajoeddin-noer-maoet.html' title='Tahajoeddin Noer Maoet'/><author><name>RANAH SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07281657085770389578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/TAQHEai1eWI/AAAAAAAAAPo/MGtN2DNIzbc/s72-c/Compass.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9167249412637198908.post-3510281514513529472</id><published>2007-09-15T08:12:00.000-07:00</published><updated>2009-11-21T22:20:18.985-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Aku Ingin Membunuh Tsar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/Sm6sPnE8vLI/AAAAAAAAAL8/EmM3hatOmz0/s1600-h/car_of_history.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 238px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/Sm6sPnE8vLI/AAAAAAAAAL8/EmM3hatOmz0/s320/car_of_history.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363413590432595122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.aoc.gov/cc/art/car_of_history.cfm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;AKU INGIN MEMBUNUH TSAR!&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Aku Ingin membunuh Tsar ini memenangkan festival “Tulisan dan Karikatur Cerpen Kampus” Universitas Jember Juara kedua pada bulan July tahun 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Kehidupan ini ibarat air. Kadang arusnya begitu kuat, sampai-sampai tubuh terseret lunglai tak berdaya. Kadang airnya tenang. Tapi, sayang, kedalamannya begitu sulit diukur. Beberapa orang menyakini dengan pasti, kesemuanya itu hanyalah pahit-getir irama romantisme kehidupan. Karena waktu jualah yang mengakhiri suara detak jantung. Tak peduli kapan mulut tersenyum, merintih atau membisu. Mereka menyadari sebuah peradaban penuh (ke)dinamis(an) sedang menanti. Tidak disini! Menunggu dimensi ruang, jarak dan (lagi-lagi) waktu berhenti berputar. Melewati proses kematian yang merangkak perlahan-lahan melalui proses kehidupan. Muda, Tua, kemudian mati!&lt;br /&gt;--------&gt;Karena itu, sejumlah orang tetap melanjutkan aktivitas sehari-hari. Dalam bahasa Sartrean, manusia dikutuk untuk bebas. Bebas untuk menetapkan, menjalankan dan menjatuhkan pilihan hidupnya. Seperti hari ini, sepasang pengantin melangsungkan upacara sakralnya di gereja. Atau juga, penghura-hura yang bermain cinta di deritan ranjang kepatuhan. Tak pernah sedikitpun bahasa tubuh mereka menunjukkan tanda-tanda kepanikan. Karena semua memiliki tujuan dan penjatuhan satu pilihan hidup yang sangat mempengaruhi nasib di masa depan. Inilah tsar yang dalam bahasa utopia berarti pengharapan individu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SwjYBcxHo-I/AAAAAAAAAOU/MQpqwcyB-Qs/s1600/palms-clock.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SwjYBcxHo-I/AAAAAAAAAOU/MQpqwcyB-Qs/s200/palms-clock.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406808872071963618" /&gt;&lt;/a&gt;--------&gt;Dalam dunia pekat sekarang ini, banyak tsar-tsar bernaung dibawah lapisan kromosom-DNA "kecebong-kecebong liar" yang meniupkan kita menjadi segumpal darah. Tsar-tsar itu kadang menjerit ketika dibuang-buang sia-sia melalui lendir. Karena "mereka" tak bisa bergerak vertikal-horisontal menuju inang. Karena "mereka" adalah mesin waktu yang bersikukuh menompang pergerakan dialektika masa depan. Sayang banyak orang memandang remeh hal itu.&lt;br /&gt;--------&gt;Tsar juga tumbuh di selaput alam bawah sadar otak manusia. Mengharap terbuang percuma, melahirkan bayi kata. Sejengkal teori, yang dalam bahasa Ligthman adalah mimpi-mimpi Einstein. Dari kata-kata itu, masa depan lahir. Meski meminta bantuan individu atau kelompok untuk mempraksiskannya. Oleh karena itu, Tsar hidup jika kita melanjutkan hidup! Secara keseluruhan, arus keruh peradaban membawa tsar-tsar menggapai cita-cita simbolis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah nobel, misalnya, yang diberikan "Lembaga Internasional pro-perdamaian" adalah ajang bergengsi bagi para tsar-tsar berlaga. Bahkan mereka yang memenuhi ambisi nafsu kegilaan pribadi. Meski kebanyakan kegilaan itulah yang menghantarkan mereka memperoleh nobel prize. Kegilaan itu umumnya bercirikan dan diwakili oleh tanda seru (!). Ingat, tanda seru di setiap karya monumental Karl May, Einstein, John Nash, dan Sartre?&lt;br /&gt;--------&gt;Kini tak seorangpun berteduh di pohon tsar kesemuanya itu dengan segenggam pena atau buku ditangan, pernikahan dan aktivitas sakral lainnya. Manusia mengharapkan tsar dijatukan dari langit. Ibarat durian jatuh. Pertanyaannya, apakah bisa mereka menyia-nyiakan waktu? Padahal, menurut Chekov, "waktu menggilasmu jika kau hanya menunggu!".&lt;br /&gt;--------&gt;Bukalah mata ketika orang-orang kota mulai senang menggunakan topeng turisme ke pelancong desa, sambil memakai ornamen perhiasan mahal 24 karat, sepatu merek Italia dan mobil ferari. Di bawah terik matahari, mereka seakan tak memperdulikan lagi seorang peminta meneteskan air liur -tanpa sengaja- disebelahnya. Sungguh dillema yang amat memprihatinkan! Terutama menjelang "musim semi" datang. Musim semi yang bukan menumbuhkan kuncup bunga-bunga sakura. Namun, musim semi kepedihan. Dalam hal ini, bunga sakura hitam jatuh di atas tanah. Di "musim semi" inilah para menteri biasanya duduk di kursi malas lembaga negara. Berludahan tentang makna onani intelektual atas nama menaikkan pajak negara. Demi memajukan pertumbuhan devisa negara sekaligus kesejahteraan masyarakat, tentunya. --------&gt;Sementara, -pada saat yang sama - dalam sebuah iringan-iringan parade para kaki, pemuja tsar biasanya berlenggak-lenggok, bersujud, bersatu padu meneriakkan kata: lawan penindasan! Mirip, puisi tsar Widji Tukul. Yang secara rutin, puisi-puisi kepahlawanan tersebut hidup didalam benak hati mereka yang mempercayai keajaiban tsar.&lt;br /&gt;--------&gt;Tapi, lelaki tua renta yang bernama Celaka itu tak mempercayainya. Satu-satunya tsar di matanya adalah uang. Seberat apa pun karung pasir, ia rela tubuhnya terlunta-lunta, tergores hingga mengucurkan darah segar demi menyenangkan hati dua anak putri di rumahnya yang menangis dimarahi guru sekolah karena menunggak iuran sekolah. Beban ini terasa semakin berat ketika sebungkus nasi lauk pauk tempe dan kerupuk "meminta" dihargai dua kali lipat yang biasa dijual di warung Bu Inah.&lt;br /&gt;--------&gt;Sebenarnya, Bu Inah tak ingin ia melakukan hal itu. Tapi apa mau dikata, palu godam titah suci pemerintah -tentang kenaikan BBM- telah dipukulkan dan dituliskan sebuah tinta abadi: KEPUTUSAN TIDAK DAPAT DIGANGGU GUGAT! Terhitung, sampai batas waktu yang tidak ditentukan.&lt;br /&gt;--------&gt;Kita tentu ingat, bagaimana sederet kesaksian tajam tangisan korban perang dunia kedua gara-gara seorang bernama Hittler kesurupan mendalami kitab tsar Zarahtustra milik Nietzsche. Masalahnya sepele, Hittler ingin abadi layaknya Superman (manusia unggul). Dengan ketangguhan yang dimiliki dan tangan kiri diangkat keatas, semua harus tunduk, menghormat kepadanya.&lt;br /&gt;--------&gt;Sekali saja Hitler berucap, korban-korban berjatuhan. Air mata perih pun menetes, sesekali menjerit sakit… sakit… dan sakit… 1000 pemukiman rusak. Ada yang mencoba menghentikannya yaitu para pelantun ayat-ayat tsar bahasa Tuhan. Percuma! Seberondongan peluru menghujam tubuhnya. Yang menarik, mereka mati dengan tersenyum, meski darah mengucur di tubuhnya. Sebab, senyuman sejatinya menaklukan kesenduan.&lt;br /&gt;--------&gt;Lain halnya dengan senyum manis lukisan Monalisa. Setiap orang bertanya-tanya ketika memandang lukisan karya Leonardo Da Vinci ini. Apakah Monalisa-lah memang benar-benar memiliki tsar. Kenapa kadang ia tersenyum kecut, diam, meratap dan menangis. Pada hakikatnya, kekuatan mata batin tsar-lah yang menyebabkan individu bersuka hati menilai tsar Monalisa.&lt;br /&gt;--------&gt;Di kota new york, orang-orang modern menggunakan topeng Monalisa itu jika ketemu dengan orang asing. Maklumlah, kota super sibuk ini mulai berhati-hati sejak keruntuhan menara World Trade Center (WTC) beberapa tahun lalu. Tak heran, jika melihat wanita berjilbab saja, ia pasti akan disapa ramah: "dari Indonesia atau dari Afganistan?" Atau dengan ungkapan lebih ramah, "lebih baik anda pergi ke Perancis saja!".&lt;br /&gt;--------&gt;Seorang gadis lugu dan ingusan pasti akan menjawab, "I am sorry may I beg your pardon, please!". Atau dalam bahasa generasi MTV, "Lu siapa? emang gue pikirin. Lu, lu, gue,gue… gitu lho." Kita tidak memahami persis, apakah esai spekulatif milik Hutington yang menyebabkan semuanya itu. Namun, yang pasti, para orientalis menobatkannya sebagai pemikir terhebat saat ini. Pemikir hebat karena mampu menghadirkan sejarah baru. Pemikir hebat karena ia menghalau kekerdilan jiwa yang terguncang akibat kesalahan tafsir. Dengan kekuatan pikiran, ia mampu menjatuhkan argumen-argumen siapapun dengan -ibaratnya- sekali pukul. Mirip ring tinju.&lt;br /&gt;--------&gt;Dalam kancah sastra, pemikir terhebat adalah seseorang yang mampu melukiskan kata-kata secara tidak serampangan. Meski, penuh makna kiasan, hasil pemikiran bukan untuk memuja tsar diri sendiri. Tapi, memajukan tsar-tsar milik orang lain.&lt;br /&gt;--------&gt;Menjelang perang kemerdekaan melawan kolonialisme, mahasiswa berteriak-teriak menuntut kebebasan. Kebebasan bertindak dan menyatukan elemen. Tapi segala sesuatu yang menyuarakan kebebasan, dibantai, disiksa dengan tuduhan merusak tsar penguasa. Cara yang sering dilakukan adalah menggunakan sepak terjang represif militer. Padahal, tujuan sejati militer adalah menjaga kedaulatan bangsa. Bersatu, melawan segala bentuk penindasan bersama rakyat sipil.&lt;br /&gt;--------&gt;Kini, lihatlah, rakyat sipil dijajah kembali. Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki dijarah habis-habisan. Penebang liar pun bersembunyi dibawah kaki militer. Siapa yang mendekat, popor senjata adalah akibat logis yang diperoleh. Masih ingat kasus Aceh? Ribuan nyawa melayang akibat kebijakan Daerah Operasi Militer (DOM) Orde Baru. Belum lagi "kasus-kasus Aceh" di pulau lainnya yang menunggu waktu dibuka kembali. Ya, tsar telah membutakan siapa saja tak peduli kelas, ras, agama, dan usia. Jika tsar berubah menjadi mahkluk lelembut dan kemudian bermetamorfosis menjadi manusia, ia akan berteriak pada dirinya sendiri: AKU INGIN MEMBUNUH TSAR!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;*Mahasiswa FISIP Jurusan Sosiologi Unej&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Direct Version :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SZvZEfYsM1I/AAAAAAAAAHE/ZriEdgt4Kjw/s1600-h/Untitled+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 340px; height: 245px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SZvZEfYsM1I/AAAAAAAAAHE/ZriEdgt4Kjw/s320/Untitled+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304071657326654290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;This write publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9167249412637198908-3510281514513529472?l=sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/3510281514513529472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/3510281514513529472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2007/09/aku-ingin-membunuh-tsar.html' title='Aku Ingin Membunuh Tsar'/><author><name>RANAH SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07281657085770389578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/Sm6sPnE8vLI/AAAAAAAAAL8/EmM3hatOmz0/s72-c/car_of_history.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9167249412637198908.post-5421283498005709170</id><published>2007-09-15T08:11:00.000-07:00</published><updated>2009-11-21T22:18:50.249-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Anak Sejarah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SlAT_ymaakI/AAAAAAAAAKE/Pj6URMyZNxo/s1600-h/Children_deportation.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 226px; height: 238px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SlAT_ymaakI/AAAAAAAAAKE/Pj6URMyZNxo/s200/Children_deportation.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354801943579093570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source : http://isurvived.org&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;ANAK SEJARAH&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata*&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Cerpen ini dimuat Di Majalah Fokus Edisi 1 tahun 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Di tengah keluarga, kehadiran anak merupakan anugerah illahi yang sangat dinanti-nantikan. Secara berkelanjutan, anak akan menanggung beban simbolik baik dari segi pembawaan dasar maupun harapan-harapan orang tua. Namun, tahukah anda bila anak ternyata adalah "titipan zaman" yang akan menghantarkan cerita roman sejarah ke masa lampau, sekarang maupun masa depan? Tentu saja anda bisa membantahnya dengan berkata bahwa tidak ada sesuatu pun yang istimewa dari seorang anak, terutama bila diukur dari jenis kelamin tertentu. Atau, sekalipun ia berhasil mengharumkan nama baik (non) institusi ke ajang besar.&lt;br /&gt;--------&gt;Kejadian yang menimpa Ratih (sebut saja demikian) mungkin perlu sekali anda simak. Terutama bagi mereka yang selama hidupnya mengais-ngais di dalam kepala, tulisan dan bersilat lidah bahwa eksistensi kebenaran sejarah patut dipertanyakan.&lt;br /&gt;Cerita ini dimulai tatkala senja hari tiba, sewaktu bulan hendak menggantikan malam, &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SwjXR141jPI/AAAAAAAAAOM/sjzrx-5dbhU/s1600/main2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 104px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SwjXR141jPI/AAAAAAAAAOM/sjzrx-5dbhU/s200/main2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406808054181498098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.aameswindows.com/images/main2.jpg&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Ratih tetap termangu diri di hadapan sebuah cermin. Gadis berambut panjang sebahu ini memiliki karakter unik. Ia tidak memenuhi kelaziman anak sebayanya, berpesta pora menuntut kebutuhan primer budaya konsumerisme. Itu tidak penting! Baginya, kehidupan pencarian jati diri adalah masa-masa memuakkan. Hidup penuh dengan keterasingan dengan himpitan pilihan hidup yang menyerang dari berbagai sudut. Apalagi, beban tanggung moral yang dimilikinya sungguh besar. Sayang, ia tidak mengetahui penyebabnya. Misterius!&lt;br /&gt;--------&gt;Dihadapan cermin besar ia bertanya-tanya.&lt;br /&gt;"Ibu kenapa kau meninggalkanku secepat ini. Apa salahku didunia ini kau meninggalkanku begitu cepat? Padahal aku ingin melihat wajah anggunmu, ibu! Apa benar wajahku ini mirip Ibu? Kenapa tidak satupun foto Ibu terpampang? Aku ingin tau Ibu, aku ingin tau…!!!"&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara dengan nada parau menyeletuk.&lt;br /&gt;"Kau tidak salah Ratih, Mungkin itu merupakan keputusan terbaik Tuhan."&lt;br /&gt;"Kenapa Ayah masuk ke kamarku? Aku sudah bilang kalau masuk kamar ketok pintu dulu. Ayah ini selalu bikin Ratih sebel. Sudah kebiasaan Ayah sich"&lt;br /&gt;"Maafkan Ayah, Ayah tidak bermaksud begitu. Kebetulan ini Ayah belikan makanan nasi goreng sepulang kerja tadi. Makanlah! Bekerja menjadi buruh pabrik sangat tidak menyenangkan. Pulang malam, gaji yang diterima tidak seberapa. Tapi bagaimana lagi, Ayah ingin kamu dapat bersekolah seperti teman-temanmu."&lt;br /&gt;"Ayah sudahlah. Aku paham. Tapi Ayah, kenapa Ayah selalu menyembunyikanku dari kawan-kawanku. Kenapa Ayah? Kenapa…!" Dan apa maksud ayah selalu memberiku setumpuk buku bacaan. Kenapa Ayah?"&lt;br /&gt;"Suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan jawaban itu termasuk misteri kematian Ibu. Itu Pasti dan sabarlah! Tapi sekarang belajarlah buat Ayah bangga! Belajarlah,. Aku sangat tidak suka melihat anak cengeng seperti kamu. Sudahlah…Ayah akan istrirahat"&lt;br /&gt;--------&gt;Seruan ini merupakan perintah langsung yang sering dilakukan orang tua kepada buah hatinya. Tanpa disadari, seruan ini seringkali memabukkan bahkan menyesatkan! Mungkin, rendah hati dan keterbukaan orang tua bukan jawaban yang terbaik dari persoalan dilenmatis ini. Sebab karakter Ayah Ratih dibentuk dari lingkungan perkampungan buruh yang selalu dibawah tekanan peluit sang mandor. Udara yang kotor, suasana yang pengap, dan suara-suara mesin yang memekakkan telinga. Tapi, Ratih bisa memahami semua hal itu. Terkadang, ia mencoba berlari dan terus berlari sembunyi dari kenyatan pahit itu. Tapi, kepekaan sosialnya yang sangat tinggi menjeratnya. Melamunkan perubahan asal jadi itu memang mudah, tapi yang sulit adalah mengubahnya. Yang dibutuhkan Ratih hanya satu. Bimbingan!&lt;br /&gt;"Tuhan kenapa takdirmu sungguh kejam. Menindas tanpa ampun kepada siapa saja. Kenapa, kau ambil nyawa ibuku? Apa salah kami?" Ratih kemudian bertanya-tanya dalam hatinya. "Aku tidak mengerti Tuhan. Semua buku telah kulalap habis, filsafat ekonomi, sosial politik dan sebagainya. Tapi aku belum juga menemukan kebenaranMu. Apalagi Ibu! Aku butuh jawaban Kenapa?"&lt;br /&gt;--------&gt;Sejak saat itu, banyak hal perubahan perilaku Ratih. Di sekolah ia tidak lagi bersenda gurau dengan teman-temannya. Ia lebih senang membaca buku-buku milik Ayahnya. Sebuah, kejadian yang amat langka mengingat usianya yang relatif sangat muda. Tapi tanpa ia sadari, beberapa hal baru mulai membentuk karakternya. "Tuhan" mengutuk jiwanya! Lambat laun, ia mulai menulis segala kegalaunnya diatas kertas lusuh. Inilah dewa penolongnya di kemudian hari ketika ia merasa benar-benar dapat merasakan bagaimana kesepian fatalis itu.&lt;br /&gt;"Aku muak dengan hidup ini. Aku muak dengan Ayah aku muak dengan semuanya. Tuhan, ibu, teman-teman. Untuk apa aku hidup, untuk apa? Aku benci" demikian tulis ratih dibukunya. Tak tahan dengan kesumpekan ia banting semua buku-buku hingga berserakan. Bejibun pertanyaan mendasar seputar kehidupannya tetap tidak ditemui.&lt;br /&gt;--------&gt;Lebih parah lagi, waktu terus berputar dan tanpa terasa Ratih memasuki dunia akademisnya ke jenjang yang lebih tinggi. Universitas! Nilai rapor semasa SMA sungguh membanggakan. Minimal, mampu membuat ayahnya melupakan beban penat selama bekeja di pabrik konveksi. Ia tercatat sebagai siswa teladan. Usaha Ayah ratih yang membanting tulang tidak sia-sia. Ratih mulai menapaki kehidupan baru!&lt;br /&gt;Ketika ia sampai dirumahnya sambil membawa rapor, Ratih terhenyak. Rumahnya dijejali oleh banyak orang, tidak seperti biasanya! Ratih melangkah dengan tegap meskipun sesungguhnya berat.  Pada saat yang bersamaan, semua mata memandang ke arahnya. Terkadang, ia merasa engah melihat tatapan-tatapan itu! Sepertinya terdapat mata-mata penuh caci maki dibalik semua itu. Sampailah ia kepintu kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AYYAAAAH………"&lt;br /&gt;" Ratih, maafkan Ayah yang selama ini meninggalkanmu. Ayah salah…."&lt;br /&gt;`"Tidak, ayah tidak salah Ratih yang salah. Ayah jangan mati. Ayah jangan&lt;br /&gt;mati."&lt;br /&gt;"Aku tidak akan mati ratih. Aku ingin menjemput Ibumu."&lt;br /&gt;"Ayah kugenggam erat-erat tanganmu ini. Jangan biarkan aku sendiri. Aku terlalu bosan untuk menikmati kesendirianku. Ayah adalah harta karunku satu-satunya"&lt;br /&gt;"Ratih… (dengan suara terengah-engah). Kau tidak sendiri, meski teman-teman menjauhimu karena kesalahanku tapi sungguh kau tidak sendiri. Pikiran dan imajinasi liarmu-lah temanmu sebenarnya. Buku! Buku itu "kakimu" dan kawan abadi yang tidak akan terhempas oleh waktu. Maafkan ayah."&lt;br /&gt;"Ayyyaaaaaaah!!!!!!"&lt;br /&gt;--------&gt;Duka menyelimuti wajah gadis manis itu. Hujan tiba-tiba mengalir deras. Dan terlihat jelas, di remang-remang jendela kaca kumuh itu. Ratih berlari meninggalkan ruangan itu keluar dan menembus lebatnya air hujan. Satu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan bagi anak yang menyintai orang tuanya! Ia menangis bersama alam. --------&gt;Bagi mereka yang percaya hal-hal natural mungkin persistiwa semacam ini bukanlah kebetulan semata. Sebab, alam selalu berbicara kepada manusia dan mengamati kemana ia pergi. Bukankah tanda-tanda alam menunjukkan keberadaan Tuhan?&lt;br /&gt;--------&gt;Sementara ia berlari, kakinya yang luka di sebelah pelipis kanan mengucur deras. Entah apa yang menyebabkan luka mencucur deras di kaki Ratih. Tapi yang jelas luka itu lebih sepele daripada luka batin yang ia alami saat itu juga. Sayang, tetangga kanan kiri tidak terlalu menghiraukan teriakan minta tolong gadis itu. Mungkin, etika individualisme merasuki karakter masyarakat kita. Ratih pingsan! Pagi harinya, Ratih membuka matanya perlahan-lahan. Sinar matahari menyilaukannya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Globe berukuran mini berada diatas meja lengkap dengan seperangkat komputer.&lt;br /&gt;"Aayyyyaaaah. Dimana Ayahku." Mendengar suara itu, seorang wanita langsung menghampiri.&lt;br /&gt;"Siapa kamu, dimana aku. Mana Ayah.. Mana Ayahh…"&lt;br /&gt;"Ratih, Ayah kamu sudah meninggal. Dan kamu pingsan selama 3 minggu . Sabar nak. Ibu mengerti perasaanmu. Sudahlah Ratih sekarang ikut Ibu saja. Minum dulu obat penghilang sakit kepala ini Ratih"&lt;br /&gt;"Tidak aku mau bersama Ayah!!!"&lt;br /&gt;"Ibu tau. Tapi ayahmu sudah meninggal"&lt;br /&gt;"Antarkan aku kekuburan Ayah".&lt;br /&gt;"Tunggu, kamu masih belum sehat. Biar kamu istirahat beberapa hari lagi"&lt;br /&gt;"Anda siapa?"&lt;br /&gt;"Ratih, sejunjurnya aku ini adalah ibumu. Aku telah mencari-carimu bertahun-tahun. Sejak kecil kau diculik oleh seseorang tak dikenal. Ibu telah berusaha mencarimu. Akulah orangtuamu. Setelah kamu sering mengirimkan artikel dan cerpen ke koran dengan foto terpampang, baru aku sadar bahwa kamu masih hidup."&lt;br /&gt;"anda bohong"&lt;br /&gt;"tidak, aku tidak berbohong. Luka di pelipis kaki kirimulah yang menunjukkan bahwa kau adalah putriku. Luka itu penanda bagiku! Kau adalah anakku Ratih."&lt;br /&gt;"Maaf Ibu ada pertemuan dengan PT. Sumber Rejeki dan segera mengawasi pekerjaan para buruh. Ratih tunggu ya nak. Cepat sembuh. Ibu mau bekerja. Kalau ada apa-apa panggil saja Bi Ijah. Nanti Ibu kembali""&lt;br /&gt;'Sekarang Ibu, jangan kecewakan klien baru kita" Ungkap seorang laki-laki berdasi di tengah pembicaraan Ratih dengan wanita misterius itu.&lt;br /&gt;--------&gt;Ratih hari itu hanya bisa menangis dan menangis. Ia mencoba membuka memory-memory masa lalunya. Semakin keras ia berpikir yang ada hanya sebuah trauma-trauma Ayahnya yang sering mencaci maki. Dan bergerumul dengan buku, cuma itu saja tidak ada lagi yang tersisa. Ratih tidak tahu apa yang menimpa pada dirinya. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Siapakah ia sebenarnya? Apa hubungannya dengan Ayah yang selalu memberinya buku-buku? Dan apakah benar wanita tadi adalah ibunya yang diidam-idamkan. Lalu apa hubungannya dengan Luka di kaki sebelah kirinya? Membingungkan!&lt;br /&gt;--------&gt;Ia lihat meja disebelah kiri dengan sebuah buku pesan. Kini ia hanya bisa menulis semua perjalanan hidupnya meski ia tidak tahu secara jelas seperti apakah kebenaran masa lalunya. Yang dikemudian kumpulan keluh kesah Ratih ini akan menjadi sebuah novel terkenal berjudul "Anak Sejarah". Adilkah takala bayang-bayang romantisme menyandera perjalanan hidup Ratih?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;cerita ini dipersembahkan sebesar-besarnya kepada kawan 'R',&lt;br /&gt;seorang feminis sejati yang sudi kiranya menceritakan sepenggal kisah kepada penulis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*mahasiswa FISIP JURUSAN SOSIOLOGI UNEJ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direct Version&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SZsD51DaEkI/AAAAAAAAAGs/xVPrsULrY44/s1600-h/Untitled+4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 235px; height: 290px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SZsD51DaEkI/AAAAAAAAAGs/xVPrsULrY44/s320/Untitled+4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303837278187688514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;This write publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9167249412637198908-5421283498005709170?l=sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/5421283498005709170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/5421283498005709170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2007/09/anak-sejarah.html' title='Anak Sejarah'/><author><name>RANAH SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07281657085770389578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SlAT_ymaakI/AAAAAAAAAKE/Pj6URMyZNxo/s72-c/Children_deportation.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9167249412637198908.post-4505943981030332007</id><published>2007-09-15T08:09:00.000-07:00</published><updated>2009-08-11T08:57:03.658-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>A Musical Joke</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SlAX4Kt1z-I/AAAAAAAAAKU/-w_7rCEw8m4/s1600-h/mozart.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 278px; height: 208px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SlAX4Kt1z-I/AAAAAAAAAKU/-w_7rCEw8m4/s200/mozart.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354806210660257762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://photobucket.com/images/mozart/mozart/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;A MUSICAL JOKE&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen ini dimuat di Majalah Prima tahun 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mozart berdiri di belakang piano sembari menatap vas sekuntum mawar merah di sebelahnya. Sementara, tangannya memainkan tuts piano minuet lewat lentingan jemarinya.&lt;br /&gt;“Dasar bandel! Bukannya bersiap-siap untuk acara beberapa hari lagi. Wolferl, buatlah musikmu terkesan ramah. Yang membeli tiketmu juga kalangan menengah bawah. Jangan pula kau meloncat dihadapan Ratu Hapsburg seperti ketika berumur enam tahun . Jadilah yang terdidik! Hmmm… dimana kuletakkan penaku barusan. Kau melihatnya… Mozart, Ingat baik-baik pesanku itu Mozart” Ungkap Leopold seolah mengutuk yang saat itu menggenggam erat-erat buku sejarah berwarna hitam.&lt;br /&gt;“Ya ayah” Mozart menjawab lirih.&lt;br /&gt;“Sudahlah Leopold, Wolferl masih terlalu muda untuk segala-galanya. Doa kudus untuk Wolferl itu jauh lebih baik Leopold. Mozart kenapa kau tak tengok Nanerl diatas kamar sana?&lt;br /&gt;---------&gt;Mozart terdiam, tangannya bergetar. Tapi ia tak memperdulikan lagi, meski Mozart senang Ibu ada didekatnya saat itu namun hatinya masih sedikit gundah. Karena itu, dia tertunduk lesu dengan ketika menghindari tempat itu dengan langkah sedikit tertatih-tatih.&lt;br /&gt;“Anna.. Anna, tidakkah kau ingat masa-masa pakaian tertambal? Sungguh menjemukan! Sudahlah aku tak mau berdebat denganmu. Sebentar lagi aku harus berangkat memimpin rapat sekolah. Uff.. hujan Zalsburg tetap tak mau berhenti hari ini, penyakitku bisa kambuh. Ambilkan jas hujanku dan jaket tebalku, Anna. Anna jangan lupa, setelah kepulanganku nanti siapkan secangkir kopi hangat di sebelah meja kerjaku.”&lt;br /&gt;---------&gt;Dalam waktu 15 menit, Mozart dan kedua kakaknya turun, setelah melihat kepergian Ayahnya. Memang, kehidupan borjuisme kota Zalsburg, Austria beberapa akhir ini menuntut bagi siapapun agar lebih dihargai. Tapi, Mozart dan keluarga berupaya sebaik mungkin menyesuaikan tanpa terkesan memaksakan diri karena mereka sudah terbiasa berpindah dari kota satu ke kota lain.&lt;br /&gt;---------&gt;Suatu ketika Mozart pergi ke katedral Zalsburg yang berada di puncak bukit. Melewati hiruk pikuk aktivitas penduduk Zalsburg disertai udara pegunungan yang sejuk seakan mengusir kegundahan hati Mozart –selain mendengarkan irama cepat Bach tentunya- akibat dibatasi acara monoton dan tertib sehari-hari. Sesampai di Katedral Zalsburg, ditataplah sekumpulan burung merpati putih yang melintas di atas kota. Ia teringat pada peristiwa Paris 1764 saat dijamu dengan kerajaan Paris, Perancis. &lt;br /&gt;---------&gt;Terkadang ia jenuh melihat situasi iklim politik peperangan selama tujuh tahun berturut-turut di seluruh Eropa. Disaat menikmati lamunan itu, ia dikagetkan dari suara setengah terbatuk di sebelahnya.&lt;br /&gt;“Hei anak ajaib, sedang apa kau disini? Kapan pagelaranmu akan dilaksanakan? Sapa seorang penggemar Mozart.&lt;br /&gt;“Beberapa hari lagi tuan. Barangkali tuan berkenan apabila saya ingin sendiri hari ini. Maaf tuan.”&lt;br /&gt;“Ah kau ini terlalu sopan rupanya. Baiklah, maaf jika mengganggumu. Namun, pergelaranmu nanti kau bawakan symphony khusus bagi kami. Benarkah desas-desus selama ini mengenai symphony-mu yang bukan gubahanmu. Melainkan kepiawaian ayahmu yang mengarahkan? Terutama disaat pergantian dari adante ke molto. Bahkan, ada nada yang ganjil bila menyimak baik-baik. Tapi, apalah daya. Anak ajaib sepertimu terlalu memiliki kharismatik yang membuat seorang bertekuk lutut.”&lt;br /&gt;“Tuan, barangkali keliru besar. Jika melakukan semua itu, kemungkinan besar nanti symphony-ku takkan bisa melantukan nada-nada kelincahan. Melakukan dan menciptakan semua itu tentu memasukkan unsur harmony emosi jiwa bukan? Tapi, saya senang atas kritikan dan masukan tuan.” Jawab keluguan Mozart.&lt;br /&gt;---------&gt;Lonceng gereja katedral berdentang beberapa saat. Mozart pun terpana melihatnya. tanpa keraguan dia memasuki kedalam katedral tersebut yang sedari tadi alunan misa terdengar pertanda akan dimulai. Mozart duduk disalah satu kursi gereja katedral. Pendeta membuka upacara misa. Semua hadirin berdiri. Dengan kearifannya, Mozart mengamati sikap anggun pendeta tersebut melalui sorot mata tajamnya.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SLJW13Vk6VI/AAAAAAAAAD8/9kME7_LtxUs/s1600-h/Mozart.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238344799972813138" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 220px; height: 151px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SLJW13Vk6VI/AAAAAAAAAD8/9kME7_LtxUs/s200/Mozart.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source : http://www.photobucket.com &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Dalam suasana penuh khidmat ini, jiwa Mozart seakan melambung tinggi. Pada hari itu, ia menginginkan ada “persembahan khusus” bagi pengalaman spiritualnya. Oleh karena itu, sepulang dari gereja katedral, ia segera mengambil catatan partitur-partiturnya dan biola kesayangannya. Mozart tidak memperdulikan trend musik klasikal saat itu. Ia senang bereksperimen dengan menggabungkan nada-nada modern demi menciptakan orisinalitasnya. Kebetulan Narels memperhatikan adiknya yang cekatan itu. Sampai-sampai tak sadar waktu makan malam dilewatkan begitu saja. Selang dua hari kemudian, para ahli datang ke rumah Mozart. Mereka diam-diam menguji kemampuan musikal Mozart. Tidak sedikit yang terkagum-kagum atas kepiawaian dan kejeniusannya. Maka, beberapa undangan untuk mempertunjukkan musikal Mozart mengalir deras. Tak seorangpun tahu, Leopald lambat laun berubah simpatik kepada Mozart.&lt;br /&gt;“Wolferl, apa maksudmu kau tidak mau mengenakan pakaian dari Inggris ini. Kubawakan khusus untukmu agar kau terlihat gagah. Kenapa kau begitu? Tidak senang sekarang kepada ayah. Lupa? Padahal, kemarin aku mengirimkan kabar tentang kegagahanmu mengenakan pakaian Inggris kepada kawan-kawan di Paris. Bukankah Aku yang menjadikanmu besar seperti ini. Don’t be a Deutch.. Pakailah ini Wolferl, semua pasti terpesona. Percayalah” Seru Leopald sambil menepuk dada Mozart.&lt;br /&gt;“Setidaknya Ayah, baju bukanlah pusat keindahan. Seni dijiwai, seni diagungkan bukan dari rasa kekaguman fisik. Tapi pancaran hati Ayah. Mengupayakan agar pendengar seolah-olah berada di nirwana. Bebas, merasa dekat dan semakin menyelami semakin dekat dengan-Nya. Bukan sekedar memikat Ayah! Itulah esensi musikalitas yang dilupakan oleh para komposer besar selama ini. Tapi, terimakasih pemberian itu. Mozart berterima kasih atas didikan kasih sayang Ayah dan Ibu selama ini..” Mozart tak bisa melanjutkan perkatannya.&lt;br /&gt;“That’s my Wolferl! Mari bergegas ke pertunjukkanmu buatlah Zalsburg berguncang kali ini. Aku ada kejutan lagi untukmu nanti.”&lt;br /&gt;---------&gt;Dengan menaiki kereta keluarga Leopald Mozart bergegas menuju aula musikal yang terletak di jantung kota. Sepanjang perjalanan, Mozart bertopang dagu. Dan, seperti biasa Leopald tak bosan-bosan dan menasehati Mozart. Sementara Anna tersenyum memperhatikan semua itu. Sesampai didepan Aula Musik, mereka berjalan melewati karpet merah. Sambutan dari masyarakat tak henti-henti mengelu-elukan Mozart termasuk wartawan yang mengabadikan kedatangannya di tengah malam bulan sabit itu. Didalam aula, lukisan-lukisan Mozart karya sejumlah pelukis terkenal terpampang dengan judul “The Maestro Of The World”. Tampaknya, Mozart mengalihkan pandangan dari lukisan itu dan terus memasuki koridor belakang untuk mempersiapkan diri “menghadapi” ratusan hadirin dari berbagai kalangan yang tak sabar menantikan Mozart bermain.&lt;br /&gt;---------&gt;Kain Layar dibuka perlahan-lahan. Mozart maju ke depan dan memberi hormat, kemudian berbalik dan memberi aba-aba kepada orkestra. Lagu pembuka sedikit satiris diiringi koor harmonisasi paduan suara yaitu requiem yang menghentakkan dada para hadirin. Seperti suara gemuruh badai luapan emosi Mozart dan simbol pergolakan terhadap kemapanan-otoritatif yang selama ini dipendam-pendam dibalik sikap kekanak-kanakannya.&lt;br /&gt;---------&gt;Senyatanya, Mozart melakukan hal itu dengan mimik yang serius. Kemudian ia meneruskan dengan lagu Symphony In G mayor dengan bermaksud menurunkan emosi penonton sedikit demi sedikit. Para hadirin semakin berdecak kagum. Dari atas balkon pertunjukan, Leopald semakin berbesar hati melihat hal itu.&lt;br /&gt;---------&gt;Sekitar delapan lagu dipersembahkan kepada hadirin malam itu. Diakhir lagu penutup, standing ovtion dan tepuk riuh para hadirin tak segan-segan menggema di dalam aula. Pergelaran usai, namun hampir seluruh hadirin membicarakan tentang nada requiem yang sangat kolosal dan dramatis. Suatu pengalaman batin yang tidak seperti biasa mereka nikmati dalam pertunjukan Mozart sebagaimana biasa. Dan juga, penampilan Mozart yang mencuri hati dan membuat mata berbinar-binar gadis-gadis malam itu.&lt;br /&gt;---------&gt;Di teras keluarga Leopald Mozart menunggu. Dipeluk tubuh Mozart berkali-kali. Begitu pula kedua kakaknya termasuk ibunya. Mozart tersenyum sambil bergumam dalam hatinya: “A Musical Joke yang akhirnya mampu mengobati kepedihanku selama ini yang sempat membuatku lari dari keluarga Leopald setelah peristiwa derit ranjang dengan Basle Cousin, kupu-kupu cantik yang hilang di balik kegelapan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*MAHASISWA FISIP JURUSAN SOSIOLOGI UNEJ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direct Version :&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SZu3QIs6NJI/AAAAAAAAAG8/45_XHs2A6c4/s1600-h/Untitled+28.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 228px; height: 247px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SZu3QIs6NJI/AAAAAAAAAG8/45_XHs2A6c4/s320/Untitled+28.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304034474000528530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9167249412637198908-4505943981030332007?l=sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/4505943981030332007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/4505943981030332007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2007/09/musical-joke.html' title='A Musical Joke'/><author><name>RANAH SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07281657085770389578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SlAX4Kt1z-I/AAAAAAAAAKU/-w_7rCEw8m4/s72-c/mozart.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9167249412637198908.post-1780444224538984766</id><published>2007-09-15T08:07:00.000-07:00</published><updated>2009-11-28T04:34:34.643-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Lampas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SlAZrKdrmGI/AAAAAAAAAKc/bKYhdO3KfTs/s1600-h/Market.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 210px; height: 257px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SlAZrKdrmGI/AAAAAAAAAKc/bKYhdO3KfTs/s200/Market.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354808186277435490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source : http://www.photobucket.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;LAMPAS&lt;br /&gt;*oleh beta Chandra Wisdata&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;cerpen ini dimuat ketika kelas Satu SMU (aks. prog) di Tabloid Fantasy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah-sampah berserakan, lalat-lalat pun hinggap kesana kemari, genangan air becek yang penuh lumpur kecoklatan mengiringi langkahku. Sesekali aku berusaha melompatinya.&lt;br /&gt;“ Brengsek” gumamku,&lt;br /&gt;---------&gt;Aku berlalu sambil membersihkan celanaku yang kotor terciprat air lumpur. Kupalingkan kepalaku kearah selatan. Becak, mobil , motor berjejer tidak teratur. Ditengah jalan, tukang parkir dengan bahasa tarzan dan peluit ‘dinasnya’ berdiri di tengah jalan menghadang kendaraan yang berjalan sambil merentangkan tangannya memaksa pengendara lain untuk berhenti agar mobil dapat berjalan dengan situasi yang ramai. Jalanpun jadi macet. Sesekali aku mendengar bel kendaraan bersahutan yang menambah kesemrawutan suasana. Merekapun tak segan-segan mengeluarkan umpatan kasar manakala mereka terjebak dalam kemacetan.Tiba-tiba aku terhentak dengan deritan rem mobil. Orang-orangpun mengerumuninya. Kulihat mereka tergopoh-gopoh menggendong perempuan setengah baya penuh dengan luka. Tampaknya telah terjadi kecelakaan.&lt;br /&gt;“ Lho itu kan ibu guru… ” Kata anak-anak SD disebelahku.&lt;br /&gt;Kemudian aku berusaha untuk melihatnya dari dekat. Tampaknya keinginanku menjadi sirna. Sangat disayangkan, sopir mobil babak belur dihajar massa!!!&lt;br /&gt;“ Dasar anjing, setan…. Kalau nyetir tahu diri dong!!!” Teriak salah satu dari mereka.&lt;br /&gt;“ Ampun….ampun…., Saya tidak tahu kalau wanita itu menyeberang… Ampun..”&lt;br /&gt;“ Bohoong…”&lt;br /&gt;---------&gt;Tendangan dan bogemanpun mendarat di kepalanya. Untungnya polisi cepat-cepat datang mengamankannya.&lt;br /&gt;Akupun berlalu melangkahkan kakiku. Kali ini aku berjalan dengan sangat hati-hati. Trotoar dipenuhi penjual. Terpaksa aku berjalan di tengah jalan. Begitu juga dengan pejalan kaki yang lain. Uniknya bukan hanya penjual yang hanya ‘bertransaksi’. Gelandangan dan pengemispun ‘menjual dirinya’ demi mengharapkan pathos pejalan kaki. Begitu juga dengan pengamen di penggir-pinggir jalan. Mereka bernyanyi ‘menjual’ suara halusnya demi mendapat recehan. Untung-untung bila ada yang memberinya lebih.&lt;br /&gt;---------&gt;Ketika aku sampai di tempat ini, suasana semakin riuh. Aku berjalan tersendat-sendat. Orang lain pun harus rela berdesak-desakkan untuk memasuki tempat ini. Maklumlah, lebar jalannya saja 1,5 meter jadi hanya cukup untuk dilalui 2 orang saja. Semakin aku masuk kedalam semakin sumpek yang aku rasakan. Terik matahari menambah keringat bercucuran. Belum lagi melihat kesemrawutan pedagang dengan ‘kiosnya’ berjejer beraturan. Lama-kelamaan aku mulai terbiasa dengan kesemrawutan disini.&lt;br /&gt;“ Mau saya bersihkan sepatunya?? Tanya seorang anak dengan sikat sepatu di tangan kanannya.&lt;br /&gt;“ Oh tidak terima kasih….” Jawabku&lt;br /&gt;Ia pun meneruskan menggosok melicinkan sepatu sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Halus sekali suaranya.&lt;br /&gt;---------&gt;Kini aku yang terheran-heran. Kulihat 2 pedagang buah asyik bermain catur sambil menunggu calon pembeli. ”Bagaimana bisa mereka bermain catur dengan suasana riuh begini ?” Tanyaku dalam hati. Sepertinya mereka terbiasa dengan kebisingan seperti ini.&lt;br /&gt;Aku menghentikan langkahku. Bau amis menusuk hidungku.&lt;br /&gt;“ Pak, beli ayamnya 1 potong! Berapa harganya Pak?” Tanyaku,&lt;br /&gt;“ Tiga puluh ribu..” Jawabnya,&lt;br /&gt;“ Kok mahal sekali sih Pak?”&lt;br /&gt;“ Kalau ‘gak mau yo wis. Cari yang lain saja.”&lt;br /&gt;Aku berpikir sejenak. Memang ayam sekarang mahal. Kakiku terasa berat untuk diangkat, capek aku berjalan terus.&lt;br /&gt;“ Jangan marah ‘tho Pak, Yo wis ‘ tak beli. Ini uangnya!! Susuk lho Pak!” Kataku sambil menyodorkan uang lima puluh ribuan.&lt;br /&gt;“ Tolong endase dipotong.”&lt;br /&gt;Ia mengasah pisaunya terlebih dahulu. Sekali tebas kepala ayampun jatuh tergeletak. ---------&gt;Ngeri rasanya jika aku melihatnya. Aku nggak bisa membayangkan jika yang di potong itu kepalaku. “Hiii… Serem” Gumamku&lt;br /&gt;“ Ini ayamnya dan kembaliannnya” Ia menyodorkan tas plastik hitam berisi ayam dan uang kembalian 2 lembar sepuluh ribuan lusuh bau keringatnya.&lt;br /&gt;“ Pak tukar yang baru dong, uangnya jelek. Sobek lagi.”&lt;br /&gt;“ Wah kamu menghina ya….. Cari duit saiki susah. Kalo’ mau cari yang baru ya di Bank. Wis tha ojo cerewet !!” Jawabnya dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;Aku cepat-cepat meninggalkannya. Meskipun dengan berat aku terima saja kembaliannya. Kuteruskan langkahku. Aku mencium bau amis lagi. Aku jadi teringat dengan si ‘brengsek’ penjual ayam tadi. Kupalingkan pandanganku ke arah bau amis itu. Penjual itu tampaknya sedang melayani calon pembelinya.&lt;br /&gt;“ Berapa-an ayam potongnya Bang?” Tanya seorang Ibu dengan tas belanjaan biru di tangan kirinya&lt;br /&gt;“ Dua puluh lima ribu…”&lt;br /&gt;“ Nggak boleh kurang nih…. Bang? Dua puluh ribu ya Bang?!”&lt;br /&gt;“ Ehm…. Ya udah. Nih sudah ta’ potongkan kepala dan cekernya.”&lt;br /&gt;Ibu itupun pergi setelah menerimanya.&lt;br /&gt;“Wah, ternyata aku sudah dibohongi oleh si ‘brengsek’ tadi. Ah nggak apa-apa, itung-itung sedekah.” Gumamku.&lt;br /&gt;---------&gt;Sepertinya aku harus ‘melatih’ lidahku untuk berani menawar harga. Akupun melanjutkan kakiku. Semakin aku berjalan semakin berat rasanya. Akhirnya aku bisa keluar dari tempat sumpek ini. Dari kejauhan aku melihat abang tukang becak mengempelas besi becak tuanya. Aku lambaikan tanganku. Eh, ternyata ia tidak menoleh.&lt;br /&gt;“ Bang, …. Abang Becak. Kemari!!!” Sambil mengkeplok tanganku.&lt;br /&gt;Ia pun menghampiriku.&lt;br /&gt;“ Bang, ke gang sepuluh. Tiga ribu ya Bang…”&lt;br /&gt;“ Wah itu jauh….Lima ribu aja ya?!!” Jawabnya,&lt;br /&gt;“ Deket kok Bang. Biasanya aku kalau pulang naik becak hanya dua ribu lima ratus lho bang…”&lt;br /&gt;“ Kalau tiga ribu lima ratus aku mau.”&lt;br /&gt;“ Iya udah Bang. Aku capek berjalan terus. Tapi lewat jalan timur ya Bang. Soalnya disana macet. Ayo Bang jalan”.&lt;br /&gt;---------&gt;Akupun menaiki becak. Abang becakpun mulai mengayuh becaknya. Kali ini aku tidak perlu takut lagi celanaku terkena becek lagi. Aku bisa duduk dengan santai. Angin semilir yang berhembus menghilangkan rasa penatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*SISWA KELAS DUA SMU NEGERI 2 JEMBER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://www.friendster.com/beta-chandra-wisdata"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;T&lt;span style="font-style: italic;"&gt;his write  publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9167249412637198908-1780444224538984766?l=sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/1780444224538984766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/1780444224538984766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2007/09/lampas.html' title='Lampas'/><author><name>RANAH SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07281657085770389578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SlAZrKdrmGI/AAAAAAAAAKc/bKYhdO3KfTs/s72-c/Market.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9167249412637198908.post-7531577730181109974</id><published>2007-09-15T08:04:00.000-07:00</published><updated>2009-11-28T04:37:45.967-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Indonesiaku (Puisi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SlA3IKR6_wI/AAAAAAAAAKs/fn_LnQJ6xZ8/s1600-h/DSC00233.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 262px; height: 156px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SlA3IKR6_wI/AAAAAAAAAKs/fn_LnQJ6xZ8/s200/DSC00233.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354840570281524994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SlAcD0187FI/AAAAAAAAAKk/YWoTU87iOVU/s1600-h/DSC00233.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;picture source http://ratnahaerullah.indonetwork.or.id/1406810/peta-indonesia-batik.htm&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesiaku!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Tabloid Fantasy ketika masih duduk di SMP Kelas I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesiaku&lt;br /&gt;Diantara dua pulau terdapat sebuah negeri&lt;br /&gt;Diantara dua samudera terdapat sebuah negeri&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                                          &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Indonesia...&lt;br /&gt;negeri yang kaya&lt;br /&gt;negeri yang makmur&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SLJcaiw-TEI/AAAAAAAAAEU/srquH6cr2EE/s1600-h/Wind.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://www.friendster.com/beta-chandra-wisdata"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;This poem  publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9167249412637198908-7531577730181109974?l=sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/7531577730181109974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9167249412637198908/posts/default/7531577730181109974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastra-beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2007/09/indonesiaku-puisi.html' title='Indonesiaku (Puisi)'/><author><name>RANAH SASTRA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07281657085770389578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_edkdcH9L-OE/SlA3IKR6_wI/AAAAAAAAAKs/fn_LnQJ6xZ8/s72-c/DSC00233.jpg' height='72' width='72'/></entry></feed>
